Cari sesuatu di sini

Memuat...

Senin, 31 Januari 2011

ragam tarian dari eropa & asia


Eropa                ::

Hampir semua jenis tari memiliki kisah dan sejarahnya sendiri. Tari dansa, ballet dan waltz adalah tiga dari sekian banyak ragam tari Eropa yang kita kenal. Bagaimanakah kisah dan sejarah ketiga tarian tersebut?
Dansa
Dansa adalah tarian berlatar belakang budaya Eropa yang dilakukan dengan berpasangan antara pria dan wanita dengan berpegangan tangan atau berpelukan sambil diiringi musik. Selain di Eropa, tari dansa ini digandrungi pula di wilayah Amerika Selatan (Latin) yang memang memiliki tari dansa tersendiri yang disebut dansa Latin. Cha-cha, Rumba, Samba, Jive, dan Paso double misalnya, adalah ragam tari dansa latin yang telah telah populer di dunia. 

Indonesia sendiri mulai mengenal dansa setelah orang-orang Belanda yang tinggal di Batavia sering mengadakan pertemuan, terutama di kalangan muda-mudinya. Bahkan hampir setiap malam minggu mereka mengadakan dansa ria.
Namun di awal 1950-an, perkembangan dansa di Indonesia mulai menyurut, seiring menguatnya paham komunis. Hal ini disebabkan karena dansa diidentikkan dengan budaya barat, sesuatu yang sangat ditentang komunis.

Waltz

Tari waltz sebenarnya adalah sejenis tarian rakyat yang dilakukan di dalam ruangan tertutup. Tari waltz mulai dikenal pada pertengahan tahun 1700-an di kalangan bangsawan Eropa terutama di daerah Wina, Austria.
Secara umum tari Waltz terdiri dari dua jenis, yaitu Slow Waltz yang lambat dan Vienese Waltz yang bertempo lebih cepat dengan ketukan 3/4. Tempo dalam tarian Waltz ini sangat tergantung pada kisah yang diceritakan. Pada umumnya lagu pengiring tarian Waltz ini bertutur tentang kisah cinta pria-wanita.

Gerakan dasar tarian Waltz adalah dengan membuat satu putaran penuh dengan dua tahapan, di mana satu tahapnya terdiri dari tiga langkah. Setelah tari Waltz ini mulai dikenal secara luas, tarian rakyat dalam ruangan lainnya pun mulai berkembang pula.

Ballet

Anda tentu mengenal jenis tarian yang satu ini. Tarian yang berasal dari Perancis ini terkenal dengan garakannya yang lentur dan dinamis dengan memadukan koordinasi tubuh dan kekuatan fisik sehingga indah dipandang mata. Saat ini tari Ballet banyak diminati di indonesia, terutama anak perempuan di kalangan menengah atas perkotaan.
Ada banyak manfaat dengan mempelajari tari ballet ini. Selain untuk menyalurkan hobi dengan menari ballet juga dapat menjaga penampilan tubuh agar tetap ramping, memperkuat daya tahan tubuh, melatih koordinasi tubuh, melatih kecepatan berpikir dan dapat meningkatkan rasa percaya diri. Saat ini mulai marak terlihat lembaga pendidikan yang mengajarkan anak untuk menari Ballet.

Sejarah Ballet dimulai justru bukan dari Perancis, namun dari Italia di masa Renaisans sekitar abad ke-16. Masa Renaisans adalah suatu masa di mana kesenian dan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang sangat pesat termasuk seni tari. Pada saat itu, para bangsawan Italia seringkali mengadakan pertemuan yang disuguhi dengan berbagai hiburan. Salah satu jenis hiburan yang ditampilkan adalah tarian ritmik yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Ballet.

Raja Perancis yang berkuasa saat itu, Raja Louise XIV turut berjasa dalam mengembangkan tari Ballet ini. Beliaulah yang mendirikan Académie Royale de Danse pada 1661. Walau pada awalnya berawal dari komunitas ningrat, namun di awal abad ke-19 Ballet mulai melebar ke strata sosial yang lebih luas, sehingga Ballet dapat dipelajai dan dinikmati oleh semua kalangan.
Hal tersebut membantu penyebaran tari Ballet ke berbagai penjuru dunia. Bahkan negara Rusia menjadi salah satu negara di dunia yang dikenal sebagai pemasok balerina yang tak habis-habisnya. Para balerina Rusia pulalah yang sering mengadakan tur keliling dunia sehingga Ballet semakin dikenal oleh mayarakat umum.













Asia                ::


Nihon Buyo

Nihon buyō (日本舞踊?, tari Jepang) adalah terjemahan bahasa Jepang untuk istilah bahasa Inggris Japanese dance. Istilah "buyō" pertama kali diperkenalkan oleh budayawan Tsubouchi Shōyō dan Fukuchi Genichirō yang yang mengacu pada dua kelompok besar tari klasik Jepang: mai (?) dan odori (?).
Mai adalah menari diiringi nyanyian atau musik tradisional dengan seluruh bagian telapak kaki yang tidak pernah diangkat melainkan diseret-seret (suriashi), walaupun kadang-kadang ada juga gerakan menghentakkan kaki. Gerakan tari bisa dilakukan dengan berputar di dalam ruang gerak yang sempit atau seluruh panggung sebagai ruang gerak. Jenis-jenis tari yang tergolong ke dalam Mai: Kagura, Bugaku, Shirabyōshi, Kusemai, Kōwakamai, Noh (Nōgaku), Jiutamai.

Odori adalah menari diiringi nyanyian atau musik tradisional dengan kaki yang dapat bergerak bebas disertai hentakan kaki untuk mengeluarkan suara, ditambah gerakan tangan yang disesuaikan dengan ritme musik. Nenbutsu Odori dan Bon Odori merupakan contoh tari Jepang yang disebut Odori.

Aliran

Pada saat ini ada sekitar 200 aliran tari Jepang, dengan 5 aliran utama sebagai berikut:
Didirikan tahun 1849 oleh Hanayagi Jusuke yang berguru kepada Nishikawa Senzō IV. Hanayagi Jusuke adalah seorang koreografer ternama untuk Kabuki-buyō (tari yang dilakukan sewaktu pertunjukan Kabuki). Hanayagi-ryū merupakan aliran nihon buyō terbesar di Jepang berdasarkan jumlah murid dan mempunyai Natori sebanyak 15.000 orang. Natori adalah sebutan untuk penari senior yang lulus ujian, menerima "nama panggung" dari guru, dan kadang-kadang diberi hak untuk mengajar.
Didirikan oleh Fujima Kanbē di sekitar tahun 1704-1710. Fujima Kanemon III mendirikan aliran cabang yang disebut Matsumoto-ryū.
Didirikan di tahun 1893 oleh Hanayagi Yoshimatsu yang merupakan murid Hanayagi Jusuke. Setelah mendirikan Wakayagi-ryū, Hanayagi Yoshimatsu mengganti nama menjadi Wakayagi Yoshimatsu. Aliran ini terkenal dengan gerakan tangan yang banyak dan elegan.
Dimulai sejak zaman Genroku oleh Nishikawa Senzō II. Aliran ini mempunyai sejarah lebih dari 300 tahun dan sekarang sudah mencapai generasi ke-10.
Didirikan oleh seorang koreografer sekaligus aktor kabuki terkenal bernama Bando Mitsugoro III, putra dari Bando Mitsugoro I.



Chakkirako

Chakkirako
(チャッキラコ?) adalah tari rakyat dari kawasan Nakazaki dan Hanagure di Distrik Misaki, Kota Miura, Prefektur Kanagawa, Jepang. Tari ini dibawakan setahun sekali pada 15 Januari sebagai tradisi perayaan tahun baru kecil (koshogatsu). Penari berjumlah sekitar 20 anak perempuan[1] usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar (5 hingga 12 tahun). Mereka menari di depan kuil Shinto dan beberapa rumah tinggal penduduk setempat.
Setelah menerima penyucian dari pendeta Shinto, pagi hari sekitar pukul 10.00, para penari mulai menari untuk Kuil Kainan sekitar pukul10.30.Tarian mereka melambangkan harapan penduduk setempat untuk memperoleh tangkapan ikan melimpah, dagangan laris, dan rumah tangga yang rukun. Selepas tengah hari, tarian dipersembahkan kepada Ryū Kamisama di depan kuil kecil di kawasan Nakazaki-Hanakure.
 Selanjutnya, penari berganti kostum dengan hakama berwarna merah dilengkapi suikan dan penutup kepala eboshi. Dari siang hingga senja, mereka menari berkeliling di toko-toko dan rumah penduduk setempat yang berpengaruh.[1]
Pada tahun 1976, Pemerintah Jepang menetapkan Chakkirako sebagai Warisan Penting Budaya Takbenda Rakyat. UNESCO memasukkan tari ini ke dalam Daftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia pada tahun 2009.

Kostum dan musik

Kostum penari berupa kimono berwarna-warni cerah. Para penari menari sambil berjajar berhadap-hadapan atau menari dalam lingkaran. Alat-alat menari yang dipegang sewaktu menari bergantung kepada jenis tarian. Penari memegang maiōgi (kipas lipat untuk menari, atau dua buah kipas lipat) atau chakkirako (sebutan untuk sepasang perkusi dari batang bambu sepanjang kira-kira 20 cm, dan kedua ujungnya berhiaskan giring-giring dan guntingan kertas 5 warna).
Tarian mereka tidak diiringi alat musik, melainkan diiringi nyanyian yang disebut ondotori, dari lima hingga sepuluh orang wanita berusia 40 tahun hingga 80 tahun. Pakaian yang dibawakan para wanita adalah kimono warna hitam lengkap dengan haori. Nama tarian ini berasal dari bunyi chakkirako yang terdengar setelah para penari membunyikan dua batang bambu yang mereka bawa.
Ada enam repertoar sesuai dengan judul lagu:
  • "Hatsuise" (初いせ?)
  • "Chakkirako" (ちゃっきらこ?)
  • "Nihon-odori" (二本踊り?)
  • "Yosasa-bushi" (よささ節?)
  • "Kamakura-bushi" (鎌倉節?)
  • "Oise Mairi" (お伊勢参り?)
Keseluruhan dari repertoar juga disebut "Chakkirako".

Asal usul

Chakkirako tidak memiliki asal usul yang pasti. Tarian ini konon berasal dari berbagai tarian yang dibawa oleh para pelaut dari berbagai daerah di Jepang yang singgah di Pelabuhan Misaki. Chakkirako diketahui sudah ditarikan sejak pertengahan zaman Edo untuk mendoakan hasil tangkapan ikan melimpah.[1] Salah satu kisah menyatakan dewa-dewa Kuil Kainan mengajarkan tarian ini kepada anak perempuan penduduk setempat. Kisah lain mengatakan ketika berwisata di Misaki, Minamoto no Yoritomo diminta untuk menari oleh ibu dan anak yang sedang mengambil rumput laut. Yoritomo menolak karena merasa sudah tua, dan sebagai gantinya anak perempuan dari wanita itu disuruhnya menari. Anak perempuan itu menari dengan membawa batang bambu kecil, dan ibunya menyanyi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar